Minggu, 10 November 2013

Bapak

Lelaki yang benar-benar merasa kehilangan ketika aku pergi
Lelaki yang benar-benar aku butuhkan pundaknya ketika aku menangis
Lelaki yang sekalipun aku marah, tetap saja membujukku
Lelaki yang menggubah lirik lagu untukku
Lelaki yang diam-diam menangis ketika merinduku

Bapak, pahlawan di hidupku
Bapak, aku rindu

Kamis, 07 November 2013

Izinkan

---untuk yang terus berotasi di otak---

Kembali aku menulis tentangmu. Rasanya tinta penaku tak pernah habis untuk menuliskan segala tentangmu.

Sedikit ada yang kurasa.
Aku merasa ada sesuatu yang hilang tapi aku tak tahu apa. Aku hanya merasa kita semakin jauh. Ah iya, aku lupa. Bukan kita, tapi kamu. Aku merasa kamu semakin jauh.
Kamu seolah sedang berlari meninggalkan aku.

Dalam diamku, aku seolah sengaja membiarkanmu berlari menjauh.
Bukan. Tentu bukan berarti aku berhenti berjuang dan melepaskan semua begitu saja.
Dalam diamku aku masih terus merapal namamu di hadapan Tuhanku. Kamu masih menjadi topik utama perbincanganku dengan Dia.

Aku belajar mencintai dalam diam. Jika pada akhirnya kau lelah berlari, berhentilah. Maka aku yang akan berganti berlari untuk mengejarmu. Atau jika kau lelah menjauh dan ingin kembali, maka pulanglah. Aku akan menyambutmu. Akan kusimpan dan kusembunyikan segala lelah dan penatmu.

Harus aku akui, terkadang aku lelah terus mengejarmu. Sedangkan kau, kau bersikap seolaholah tak tahu dan masa bodoh dengan perjuanganku mengejarmu.
Maka kini izinkan aku beristirahat sejenak.
Ya, aku hanya ingin istirahat untuk mengumpulkan kembali tenaga untuk berlari lebih kencang.

Aku rindu kamu.
Jika kau lihat tetesan hujan, seperti itulah rinduku.
Tapi biar aku simpan dan pendam sendiri rinduku.
Aku cukup merapal namamu di hadapan Tuhanku.
Itulah caraku melepas rindu kepadamu.