Selasa, 29 Oktober 2013

Kalau Tak Cinta

Setiap hari, setiap waktu, aku selalu berusaha menganggap semua baik-baik saja. Masih sulit bagiku menerima kenyataan bahwa kamu yang begitu aku cintai ternyata memilih kembali kepada seseorang yang lebih baik dan sempurna. Tentu saja, jika tak sempurna tak mungkin kau memilih kembali padanya.

Apa kamu pernah tahu, dalam diamku, rindu ini selalu milikmu. Sayang dan cinta ini masih untukmu.
Aku masih tak henti-hentinya merapal namamu di hadapan Tuhan. Doaku untukmu masih mengalir di sujud lima waktuku.

Apa kau tahu, setiap bertemu aku berusaha (terlihat) baik-baik saja, meski sebenarnya hatiku perih menyadari bahwa aku dan kamu tak lagi menjadi kita.

Aku dan kamu memang bersama, tapi aku tak tahu apa hubungan kita. Teman? Kekasih? Atau?
Kamu masih ingat julukan partner in crime yang aku katakan di malam itu? Ya, itu karena aku tak bisa menemukan istilah yang tepat untuk mendefinisikan hubungan kita. Dan karena aku juga tak punya keberanian lebih untuk menanyakan padamu, apa sebenarnya hubungan kita dan apa artiku untukmu.

Selama ini aku hanya merasa memilikimu, tapi tak pernah benar-benar memilikimu, meski kau memiliku seutuhnya. Setiap kita bersama, selalu ada dia. Setiap kita bertemu, aku harus melihatmu berbalas pesan singkat dengan dia yang kau panggil "sayang". Kau tahu seperti apa rasaku saat itu?
Aku merasa bagai sebongkah patung yang bernyawa tapi tak bisa melakukan apapun.

Aku tahu kalau kau tahu aku rindu, aku sayang, aku cinta. Tapi setiap aku katakan itu, balasmu selalu pertanyaan yang serupa.
"Kenapa kau sayang aku?". Oh Sayang, tak semua pertanyaan kenapa harus dijawab dengan karena. Kau tahu, rasaku kepadamu tanpa alasan.

Kemarin aku beranikan diri mengatakan sayang setelah cukup lama aku diam. Dan aku tak sangka, aku bisa sesedih ini membaca balasan pesan singkatmu.
"Yakin kau sayang aku?"

Kalau tak cinta, tak mungkin aku bertahan sejauh ini di sampingmu. Tak lihatkah kau kesedihan dan kegelapan di mataku ketika hari itu kau lumat bibirku dengan kata perpisahan?!
Tak tahukah kau air mataku menganak sungai ketika aku tahu kau kembali kepada dia yang kau panggil "sayang" ? Tentu saja kau tak tahu itu. Karena bagimu aku hanya persinggahan, bukan tujuan.

Kalau tak cinta, tak mungkin aku terima dengan tangan dan hati terbuka setiap kau datang padaku, meski hanya sekadar singgah bukan untuk menetap. Bukankah sudah kukatakan berulang kali, untukmu, hatiku bagai rumah tanpa pintu.

Kalau tak cinta, tak mungkin aku masih berharap aku dan kamu kembali menjadi kita.

                           untuk yang tak pernah     percaya betapa aku mencintai dia.

                      Dari wanita akhir zaman              yang tak henti merapal namanya di hadapan Tuhan

Jumat, 25 Oktober 2013

Kamu

Kamu adalah apa yang aku perbincangkan dengan tuhan. Tapi obrolanmu dengan tuhan, bukanlah tentang aku.
Kau tahu, aku cemburu. Aku juga ingin cintamu. Harus berapa lama cintaku bertepuk sebelah tangan? Tak adakah sedikit ruang untukku di hatimu?
Jika bisa, aku akan memilih untuk jatuh cinta kepada orang yang mencintaiku. Tapi tidak. Aku tidak bisa memilih.
Yang tuhan bisikkan adalah namamu. Ya, kepadamu lah tuhan memutuskan aku untuk jatuh cinta. Tapi tuhan tidak memberitahuku bahwa jatuh cinta padamu akan sesulit ini.

Rabu, 23 Oktober 2013

Subuh

Tuhan, di pagi yang masih prematur ini, kembali kurapal namanya di hadapMu. kembali kuceritakan tentang dia kepadaMu. Dan aku bertanya kepadaMu, masih bolehkah aku menyimpan harap akan mimpiku bersamanya? Masih sanggupkah aku bertahan melalui jalan cerita yang telah Kau rangkai?

Oh Gusti, berilah sedikit petunjuk yang mudah aku baca. karena hambamu yang papa ini kerap kali bodoh dalam membaca tanda.

Selasa, 22 Oktober 2013

Hilang

Dan lampu jalan pun tetiba mati ketika aku lewat. Malam. Hitam. Pekat.
Dan kamu, Hilang.
Terbang bersama debu yang tersapu bayu.


22102013/20.45

goodbye

tak ada lagi purnama. dia tak pernah muncul kembali. tenggelam bersama puing-puing istana yang runtuh. istana yang belum selesai aku bangun.

Senja Fajar


Aku mungkin tidak akan seperti ini jika dari awal aku bisa memukul mundur kehadiranmu. Bukan malah membiarkan kamu masuk terlalu jauh hingga akhirnya merajai seluruh bagian hatiku. Menyesal? Tidak! Aku tidak menyesalinya. Sedikit pun tidak pernah terlintas dalam pikiranku untuk menyesali keputusanku membiarkanmu berkelana di hatiku.. Karena toh sekalipun disesali itu tidak akan mengubah keadaan. Kau terlanjur masuk, hidup, dan menetap di dalam hati. Ahh, bukankah Tuhan juga tidak menyukai umatNya yang berandai-andai seperti ini.
Aku cukup menerima keadaanku. Berusaha menjadi perempuan jawa yang nrimo ing pandum. Tapi bukan berarti aku tidak melakukan usaha apapun. Nrima dalam artian pasrah di sini aku tetap usaha, tetapi keputusan dan hasil akhirnya harus tetap dikembalikan kepada yang Maha. Karena Dia yang memegang segalaku, meski bagiku, segalaku itu kamu.
Aku sebenarnya punya pilihan. Apakah aku akan meneruskan dan menunggu sesuatu yang (mungkin) belum jelas atau aku memilih untuk melangkah pergi dan meninggalkan semuanya. Jika ditilik dari permasalahan yang aku hadapi, pilihan terbaiknya mungkin adalah aku melangkah pergi dan melepaskan semuanya. Tetapi sayang, aku tidak akan menyerah dan memilih hal itu. Meskipun beribu bahkan berjuta orang memaksaku untuk memilih pilihan itu. Aku akan lebih mendengarkan dan percaya pada pilihan hatiku. Tetap berada di sampingmu, entah sebagai apamu (karena aku memang tidak berani meminta kejelasan status) dengan resiko bahwa (mungkin) aku akan sering berurai air mata.
Aku tahu kau dengan dia. Bukan hanya sekadar tahu, bahkan aku merasa kau amat mencintainya. Itu terlihat dari seringnya kamu pergi darinya, tapi pada akhirnya kamu kembali lagi kepadanya. Hingga tak jarang aku bertanya, apa yang dia punya sampai kau selalu kembali padanya meski kau sendiri yang memutuskan untuk pergi. Sedangkan dengan aku? Ahh, tak perlu kau tanya. Untukmu, hatiku bagai rumah tanpa pintu. Kau bisa bebas keluar masuk sesuka hatimu. Ya, mungkin itu kesalahanku yang membiarkanmu keluar masuk begitu saja ke dalam hatiku. Tapi aku juga punya alasan untuk itu. Aku mengizinkanmu seperti itu karena aku benar-benar tulus menyayangi. Dan sebenarnya aku ingin kau tetap di sini, di sampingku. Tak perlu lagi kau cari dermaga-dermaga lain untuk kau singgahi. Cukup satu dermaga, yang bisa kau datangi kapan pun kau mau. Ahh, lagi-lagi kau membuatku mengutarakan cinta yang sebenarnya sangat bisa kau lihat tanpa aku harus mengucapkannya.
Untukmu dan di sampingmu, aku berusaha menjadi seperti senja. Kau tahu kenapa senja? Tentu bukan hanya karena aku menyukainya. Menurut egoku, senja itu sempurna. Dia bisa menjadi sangat dewasa ketika ia yang menyimpan segala lelah dan penatmu. Tempatmu untuk beristirahat. Tapi di sisi lain, ia juga bisa sangat anak-anak. Menggodamu dan membutamu berlari untuk mengejarnya karena kehadiran dan keberadaannya ya sesaat. Namun bagimu, aku tak hanya ada untuk sesaat.
Dan kau tahu, bagiku kau seperti fajar. Memang belum terang seperti pagi. Tetapi dari fajar segala sesuatu bermula. Ketka fajar, ribuan manusia mulai menumbuhkan kembali mimpi dan harapannya. Bahkan ayam-ayam tetangga pun turun dari kandangnya tatkala fajar mulai menyingsing. Ya, seperti itulah kamu buatku. Seperti fajar. Memberikan mimpi dan harapan baru untukku. Harapan dan mimpi yang akan aku wujudkan dan aku mulai di pagi hari.
Hey, tetapi tunggu dulu Sayang. Bukankah senja dengan fajar itu mempunyai kemiripian? Ahh, kau benar. Fajar dan senja memiliki semburat merah yang sama. Merah seperti luka mungkin. Begitu pun dengan kehadiran mereka yang hanya sesaat. 
Aku pun menyukai fajar. Waktu di mana sang surya belum menampakkan dirinya secara utuh. Sama seperti senja. Ketika sang surya perlahan mulai meninggalkan kita.
Senja dan fajar. Dua waktu yang memiliki kesamaan tetapi tak mungin bersama. Begitu pun aku dan kamu. Seperti fajar dan senja. Tapi apakah nasib kita akan sama seperti fajar dan senja? Aku berharap tidak. Sekali lagi egoku mengatakan bahwa kita justru akan saling melengkapi. Ketika lelah, masing-masing akan menjadi senja untuk yang lain. Dan sesudahnya, akan menjadi fajar, di mana kita akan mulai menumbuhkan harapan dan janji baru. Untuk aku, untuk kamu, untuk kita, dan untuk mereka. Bersama, bahagia, hingga ujung usia. 


Untuk dia yang tak tahu betapa
aku selalu merindu pun
mencinta 

Senin, 21 Oktober 2013

Rindu Hujan

Tetes pertama Oktober
aroma tanah basah
semilir bayu membelai merdu
tetiba,
Rindu

sekelumit rasa getarkan jiwa
rindu bersua dia

kepada hujan
kusampaikan rasa


Oktober 2013

Sabtu, 19 Oktober 2013

Tentangmu (lagi)


Tepat tengah malam. Seyogyanya aku  sudah terlelap dan terbuai dalam mimpi. Tapi entah mengapa mataku susah untuk terpejam. Aku sadar, kantuk sudah mulai menjalar perlahan, hanya saja kepala (baca: otak) ku tidak mau diajak kompromi. Ia justru memaksaku untuk semakin berpikir. Semakin malam, pertanyaan yang hadir di kepala pun semakin banyak.
Entah bagaimana aku menjelaskannya, karena semakin aku berusaha menjelaskan, semakin tak kutemukan kata untuk mewakili.
Lagi-lagi tentangmu. Mengapa selalu kau yang merajai otakku? Biasanya aku akan merasa sedikit tenang ketika aku memikirkan ini sambil meneguk kopi. Tapi kini kopiku semakin hari semakin pahit aku rasa. Seperti itu pulakah hidupku? Seperti itu pulakah hubunganku denganmu. Kau bukan tuhanku, tapi kau benar-benar menggenggam hatiku. Bahkan kaulah segalaku. Apakah cintaku padamu melebihi cintaku pada tuhanku? Jika jawabannya iya, sungguh aku adalah orang terbodoh di dunia. Mencintai makhluk melebihi cinta kepada sang pencipta.
Kucoba urai satu per satu tentang kita. Tetapi tak perlulah aku ceritakan seperti apa diriku. Kau tahu benar siapa aku dan bagaimana aku ketika berbicara tentang kita. Tapi tunggu dulu, benarkah kau tahu bagaimana aku? Karena jika kau tahu bagaimana aku, mengapa selalu saja kau buatku menitikkkan air mata. Atau justru kau tidak tahu bagaimana aku? Tapi jika kau tidak tahu bagaimana aku, mengapa aku merasa nyaman bersamamu? Ini seperti hitam dan putih. Dan kita selalu berada di abu-abu. Tidak hitam, pun tak putih. Atau memang sejatinya seperti itu hubungan antara manusia? tidak hitam, tidak putih. Menjadi terasa pahit dan hitam ketika ada dia diantara kita. Dan menjadi putih dan begitu manis ketika hanya ada aku dan kamu. Ah, ini pun masih membingungkanku. Dia di antara kita atau aku di antara kalian.
Memang akulah yang mengizinkanmu masuk ke dalam hidupku. Dan kemudian kau menarikku  masuk ke dalam hidupmu. Tarikan yang begitu kuat hingga akhirnya aku tidak bisa melepaskan diri. Lucu memang kedengarannya, tapi itulah adanya. Semakin hari, tarikan itu semakin kuat. Kau seperti getah pisang yang menempel di bajuku, tidak bisa aku hilangkan.
Lalu bagaimana aku untukmu? Apakah seperti itu juga artiku untukmu? Aku tidak ingin menduga-duga. Jika iya, mengapa kau selalu membuatku berurai air mata? Tetapi jika tidak,,,, ahh, aku tak mampu melanjutkan kalimat ini.
Sepertinya terlalu banyak pertanyaan mengapa. Haruskah aku berhenti bertanya mengapa?

Untuk kamu yang (mungkin) sedang bermimpi, 
ketahuilah, 
di sudut pengap sebuah kamar, 
ada wanita akhir zaman yang senantiasa menunggumu.

13102013/00.00 wita

Rabu, 16 Oktober 2013

oktober

oktober sudah setengah perjalanan.
berharap ia segera berganti.
berganti dengan november yang manis
november yang penuh dengan hujan.
november yang bertabur rindu.

oktober
bukan benci hanya
takut?
waswas?
ahh, tak perlu dijelaskan
terkadang rasa memang hanya
untuk dirasa

Kamis, 10 Oktober 2013

Di ujung jalan ini #1

Di ujung jalan ini pertama kita bertemu. Pagi itu tanpa sengaja mata kita beradu. Tidak ada percakapan, hanya seulas senyum yang saling kita lemparkan. Aku masih ingat, ketika itu kau berjalan tergesa-gesa. Entah apa yang kau buru.
Kau tlah lewat, tapi masih kusempatkan untuk menengok sejenak dan memperhatikanmu dari jauh. Lama kupandangi dirimu, hingga pun.ggungmu menghilang di tikungan.

Entah mengapa aku menyempatkan diri memandangi sosoknya. Mungkin karena waktu itu kau terlihat begitu aneh untukku. Ya, anggap saja ini aneh. Sesosok lelaki dengan dandanan yang berantakan, mata sembab dan terlihat persis seperti mata panda. Tapi senyummu bagaikan memiliki daya tarik seperti magnet.

ya, itulah pertemuan pertama kita. tanpa suara, tanpa kata. tapi seperti ada daya magnet yang menarikku begitu kuat.

Senin, 07 Oktober 2013

umbrus

pagiku kali ini tidak menjanjikan sesuatu yang baru.
masih bnyak yg berkecamuk di hati dan kepalaku.
semua masih terasa berat. semua masih membuatku ingin berteriak.
pertanyaan-pertanyaan itu selalu menggelitikku dan membuatku tak bisa memenjamkan mata.

sampai kapan kita seperti ini?
kita? benarkah kita? atau jangan-jangan hanya aku? atau mungkin malah hanya kamu?

aku mencoba perbaiki, tapi tak berubah.
kucoba lagi, masih gagal.
aku ulang mencoba, rasanya masih sama.
hingga tak jarang aku ingin berteriak dan kutanyakan pada tuhan, sejauh apa jalan terjal yang harus aku lalui.

Minggu, 06 Oktober 2013

tentang rasa

tetiba air mata menetes. rasanya seperti ada yang mengiris hati.
entah rasa apa ini hingga membuatku tanpa sadar kembali menangis.

sakitkah? atau
kecewa? atau mungkin
takut?

seringnya terluka membuatku terkadang tak bisa mengenali dan membedakan rasa.
bahkan tak jarang inginku mati rasa.

untuk engkau yang membuatku ingin mati rasa, tanpa kau tau, kau masih menjadi segalaku.

Sabtu, 05 Oktober 2013

Masihkah?

masihkah kau ingat ketika kita mengejar senja? ah rasanya sungguh menyenangkan. melihatmu meliak-liukkan motor di tengah ramainya kota. demi apa? demi senja yang ingin sekali aku lihat.

masihkah kau ingat purnama itu? bukan purnama yang sempurna memang. tapi kau tau, aku menyukai itu. karena mirip di film twilight. dan kau selalu mengingatkanku jika ada purnama.

masihkah kau ingat pantai itu? pantai di mana kita berkejaran layaknya anak kecil. kemudian aku merengek untuk memotret kaki kita yang bersanding.

masihkah kau ingat nama yang hanya kita pakai untuk kita? nama yang sebenarnya tanpa sengaja kita ciptakan.

masih ingatkah kau tentang lelaki dan perempuan akhir zaman?

malam ini, semua itu memenuhi seluruh ruang di otakku.....

Jumat, 04 Oktober 2013

Aku, Kamu, dan Oktober

wah gak sadar ternyata sudah oktober. sudah satu tahun rupanya kita berpisah. tapi tunggu dulu, apakah kita benar-benar berpisah? aku ragu akan hal itu. tapi aku pun ragu, apakah sekarang kita sedang bersama.

aku masih ingat hari itu. aku sedang tergeletak di rumah sakit tapi kau justru asyik mendua dengan dia.
aku tidak habis pikir, apa artinya aku untukmu saat itu, karena begitu aku keluar dari rumah sakit kau justru meninggalkan aku. ibarat kata, sudah jatuh tertimpa tangga pula. apes banget lah waktu itu.

tahukah kamu, setahun yang lalu aku benar-benar merasa sangat terpuruk. bahkan sempat terpikir olehku untuk pergi saja. bahkan aku sempat ingin membencimu. tapi sekeras apapun usahaku saat aku, aku benar-benar tidak bisa membencimu.

meski kini pun aku masih ragu apakah kita sedang bersama atau tidak, tapi untuk kau tahu, aku masih sering bertanya-tanya, apa yang kurang dan apa lagi yang kau cari hingga kau selalu asyik mendua.
jangan menggunakan dalih gejolak usia muda atau menduamu hanya sekadar status. telingaku hampir tuli dengan hal itu.

kini kita kembali dekat. ada canda, ada marah. bahkan kita berbagi mimpi. tapi aku tak tahu, apakah kita akan berada dalam satu biduk dan mendayungnya bersama melintasi samudra.
ataukah kita hanya akan menjadi teman berbagi tanpa pernah bisa bersama.

untuk lelaki akhir zaman, ingatlah. di sampingmu ada wanita akhir zaman yang setia menunggu :-)

Kamis, 03 Oktober 2013

Balada Anak Rantau

Aku menulis ini di jalan yang aku lalui tiap hari. Entah telah berapa ribu langkah yang aku tempuh. Tak lagi bisa aku menghitung.

Ingatanku tertarik mundur ke masa 4 tahun silam. Masa awal pencarianku untuk sebuah kehidupan yang lebih baik.

Aku memutuskan meninggalkan kampung halaman dengan berbagai pertimbangan dan kecamuk di hati. Mimpi tentang kehidupan yang lebih lah yang menguatkan aku untuk berani melangkah jauh dari orang tua.

Aku menetapkan tujuan di sebuah kota kecil bernama Gorontalo. Kenapa harus di kota kecil? Kenapa juga Gorontalo? Yah semua itu tidak lain karena Gorontalo adalah kampung halaman ibuku.

Di Gorontalo, perjalananku untuk meraih hidup yang lebih baik dimulai.Sebagai seorang perantau, hanya tekat dan keberanian yang aku punya. Tak bisa kupungkiri bahwa awal tinggal di perantauan cukup sulit kujalani.
semua serba baru. Orangorang baru, budaya baru, bahasa baru, lingkungan baru, bahkan makanan baru. Aku harus cepat menyesuaikan diri agar semua menjadi ringan untuk dijalani.

Janji kehidupan yang lebih baik membuatku bersemangat untuk mengambil semua kesempatan yang ada. Berkat doa dan restu orang tua, tuhan memudahkan jalanku untuk mendapatkan pekerjaan. Tak perlu menunggu lama, sebuah janji masa depan sudah ada ditanganku. Tiada henti syukurku kepada tuhan untuk hal ini. Meski jauh dari orang tua, tapi aku bisa mengabulkan harapan mereka.

Hari berganti waktu pun terus bergulir. seiring perputaran jarum jam, dinamika hidup terus bergerak.
Kadang aku mulai merasa jenuh, lelah, bahkan kesepian karena jauh dari orang tua dan temanteman.
Tetapi seperti nasehat Imam Syafii, jangan takut merantau. Karena di tempat baru akan kau temukan teman dan keluarga baru. Kalimat itu aku ingat dengan baik. Bahwa benar adanya, di sini aku menemukan temanteman baru juga keluarga baru. Bahkan aku menemukan cinta baru :). Merekalah yang mengisi "kekosonganku".

Kini 4 tahun sudah aku merantau. Pernah terpikir olehku untuk pulang kembali ke kampung halaman. Tetapi sepertinya hal itu belum akan aku wujudkan dalam waktu dekat.
Untuk orang tua (terutama ayah) dan temanteman yang mengharap kepulanganku (untuk kembali menetap di jawa), aku minta maaf belum bisa mengabulkan permintaan kalian.
Aku masih ingin menikmati hidupku sebagai anak rantau. Aku masih ingin mengejar mimpiku tentang kehidupan yang lebih baik di sini.

Rabu, 02 Oktober 2013

Catatan Thaller Minor

Sudah beberapa hari ini aku selalu mendengar kata "penyakitan". Sebuah kata yang tidak enak untuk didengar. Tetapi kata inilah yang akhirnya menggerakkan jariku untuk membuat tulisan ini.

Aku tidak bisa memilih di keadaan seperti apa aku dilahirkan. Aku juga tak bisa memilih siapa orang tuaku.  Begitu juga dengan kalian. Kalian tidak bisa memilih terlahir dari suku apa, dari orang tua siapa, dan di keadaan seperti apa. Jika pada akhirnya aku terlahir di kondisi seperti ini dan dari orang tuaku, aku tidak menyesalinya sekalipun ini bukan pilihanku.Ini adalah anugrah tuhan antukku.

Mendapati kenyataan bahwa ada "kelainan" atau "cacat" dalam diri sungguh bukan hal yang mudah, apalagi untuk dibanggakan. Jika boleh memilih, aku pun ingin dilahirkan dalam keadaan "normal". Tetapi tuhan berkehendak dan punya rencana lain untukku. Dia menciptakan aku dengan "cacat" yang akan aku bawa sampai aku mati. Kemudian pertanyaannya, apakah ini salahku jika aku terlahir seperti ini? Apakah juga salah orang tuaku jika ternyata aku mempunyai thalassemia?

Ketahuilah, thalassemia bukanlah sebuah penyakit. Thalassemia merupakan sebuah "kelainan" atau "cacat" genetik. Adakah "obat" untuk menyembuhkan "kelainan/cacat" ini?

Kalian yang terlahir normal tentu tidak akan memahami bagaimana perasaan para thaller. Para thaller juga ingin hidup "normal". Aku memang bukan thaller mayor, hanya saja meski aku minor, tapi "kelainan" ini cukup mempengaruhi kondisi fisikku. Aku menjadi mudah lelah, mudah drop, bahkan terkadang mudah sakit. Jika aku sudah berusaha untuk menjaga kondisiku tetapi pada akhirnya aku tetap jatuh sakit, apakah itu sepenuhnya  salahku? Apakah kalian juga harus melihat keadaanku dengan pandangan miring? Mengatakan bahwa aku PENYAKITAN, bahkan dengan entengnya mengatakan MEMALUKAN MASIH LAJANG TAPI PENYAKITAN.
Memalukan? Siapa yang harus malu? Aku? Orang tuaku? Atau kalian? 
Kalau aku, kenapa aku harus malu? Ini bukan aib. Ini salah atu cara tuhan menyayangiku. Bahkan Dia lebih memperhatikan aku ketimbang kalian kan dengan keadaanku yang seperti ini?!

Sungguh kawan, tidak seorang pun di dunia ini yang menginginkan sakit. Semua orang ingin "normal. Tapi apa daya jika ini terjadi padaku. Aku hanya bisa mensyukuri segala apa yang terjadi kepadaku. 
Dan kata-kata kalian yang memandang rendah aku karena keadaanku, sungguh aku berharap bahwa itu tidak akan berbalik kepada kalian. Karena rasanya sungguh tidak bijak jika orang "berilmu seperti kalian tapi perkataan yang kalian keluarkan justru merendahkan kalian sendiri.

Ketahuilah, aku sama sekali tidak malu dengan semua pandangan miring kalian terhadapku. Aku hanya kecewa dan sungguh tidak menyangka.
Tapi kawan, jika boleh aku meminta, jangan lagi cecar aku dengan kata-kata kalian yang menganggapku begitu "berbeda" sekalipun memang kita berbeda.