Sabtu, 19 Oktober 2013

Tentangmu (lagi)


Tepat tengah malam. Seyogyanya aku  sudah terlelap dan terbuai dalam mimpi. Tapi entah mengapa mataku susah untuk terpejam. Aku sadar, kantuk sudah mulai menjalar perlahan, hanya saja kepala (baca: otak) ku tidak mau diajak kompromi. Ia justru memaksaku untuk semakin berpikir. Semakin malam, pertanyaan yang hadir di kepala pun semakin banyak.
Entah bagaimana aku menjelaskannya, karena semakin aku berusaha menjelaskan, semakin tak kutemukan kata untuk mewakili.
Lagi-lagi tentangmu. Mengapa selalu kau yang merajai otakku? Biasanya aku akan merasa sedikit tenang ketika aku memikirkan ini sambil meneguk kopi. Tapi kini kopiku semakin hari semakin pahit aku rasa. Seperti itu pulakah hidupku? Seperti itu pulakah hubunganku denganmu. Kau bukan tuhanku, tapi kau benar-benar menggenggam hatiku. Bahkan kaulah segalaku. Apakah cintaku padamu melebihi cintaku pada tuhanku? Jika jawabannya iya, sungguh aku adalah orang terbodoh di dunia. Mencintai makhluk melebihi cinta kepada sang pencipta.
Kucoba urai satu per satu tentang kita. Tetapi tak perlulah aku ceritakan seperti apa diriku. Kau tahu benar siapa aku dan bagaimana aku ketika berbicara tentang kita. Tapi tunggu dulu, benarkah kau tahu bagaimana aku? Karena jika kau tahu bagaimana aku, mengapa selalu saja kau buatku menitikkkan air mata. Atau justru kau tidak tahu bagaimana aku? Tapi jika kau tidak tahu bagaimana aku, mengapa aku merasa nyaman bersamamu? Ini seperti hitam dan putih. Dan kita selalu berada di abu-abu. Tidak hitam, pun tak putih. Atau memang sejatinya seperti itu hubungan antara manusia? tidak hitam, tidak putih. Menjadi terasa pahit dan hitam ketika ada dia diantara kita. Dan menjadi putih dan begitu manis ketika hanya ada aku dan kamu. Ah, ini pun masih membingungkanku. Dia di antara kita atau aku di antara kalian.
Memang akulah yang mengizinkanmu masuk ke dalam hidupku. Dan kemudian kau menarikku  masuk ke dalam hidupmu. Tarikan yang begitu kuat hingga akhirnya aku tidak bisa melepaskan diri. Lucu memang kedengarannya, tapi itulah adanya. Semakin hari, tarikan itu semakin kuat. Kau seperti getah pisang yang menempel di bajuku, tidak bisa aku hilangkan.
Lalu bagaimana aku untukmu? Apakah seperti itu juga artiku untukmu? Aku tidak ingin menduga-duga. Jika iya, mengapa kau selalu membuatku berurai air mata? Tetapi jika tidak,,,, ahh, aku tak mampu melanjutkan kalimat ini.
Sepertinya terlalu banyak pertanyaan mengapa. Haruskah aku berhenti bertanya mengapa?

Untuk kamu yang (mungkin) sedang bermimpi, 
ketahuilah, 
di sudut pengap sebuah kamar, 
ada wanita akhir zaman yang senantiasa menunggumu.

13102013/00.00 wita

2 komentar:

  1. Sukak.....bgt......mgkn rasamu & rasaku sama ( dlm konteks kisah hidup)
    Pedih memang,,,,bahkan miris...
    Apakah qt mutiara hitam ????
    Hatiku tlah membeku ataukah malah membatu???
    Hingga tetes air mata tak jua mampu ungkapkan rasa

    BalasHapus
    Balasan
    1. sakit, pedih, juga tangis, itu sudah menjadi makanan pokok, selingan, bahkan cemilan. yang ditakutkan di sini adalah ketika merasa ingin mati rasa, atau mungkin malah sudah mati rasa. tetapi cinta yang tulus yang membuat bertahan, sepahit apapun

      Hapus