Aku menemukan sajak Sapardi ini tepat di awal bulan desember. Dan entah mengapa aku ingin membaginya dengan kalian.
Silakan dinikmati :)
Sajak Desember
kutanggalkan mantel serta topiku yang tua
ketika daun penanggalan gugur:
lewat tengah malam. Kemudian kuhitung
hutang-hutangku pada-Mu
mendadak terasa: betapa miskinnya diriku;
di luar hujan pun masih kudengar
dari celah-celah jendela. Ada yang terbaring
di kursi, letih sekali
masih patutkah kuhitung segala milikku
selembar celana dan selembar baju
ketika kusebut berulang nama-Mu: taram-
temaram bayang bianglala itu
(SDD-1961)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar