Manusia terkadang terlalu
mencintai dunia yang dia ciptakan di dalam hatinya. (fa)
Itu
adalah sepenggal kalimat dari fa, salah satu penulis di buku “pindah.”
Buku
ini seolah menjadai tambahan kekuatan bagiku untuk melakukan perpindahan.
Pada
dasarnya manusia memang memerlukan dan harus melakukan perpindahan. Seperti yang
pernah aku lakukan dulu, berpindah dari Semarang menuju Gorontalo. Ini kali pun
aku memutuskan untuk melakukan perpindahan. Tentu saja bukan lagi perpindahan
fisik dari satu kota ke kota yang lain, tetapi berpindah hati.
Ya,
benar sekali, aku memutuskan untuk berhenti berjuang. sekian lama aku menautkan
hatiku pada seorang pria, kini saatnya aku berhenti dan berpindah. Bukan karena
tak lagi cinta, tetapi karena tak lagi dibutuhkan. dalam sebuah hubungan bukan
hanya cinta yang dibutuhkan, tetapi rasa saling membutuhkan juga harus ada. Karena
itu yang akan membuat hubungan itu bertahan. Ketika seseorang merasa sudah tak
lagi dibutuhkan, maka dengan sendirinya ia tidak punya alasan untuk bertahan. Begitu
juga denganku. Aku merasa tak lagi dibutuhkan. Aku merasa tak lagi punya alasan
untuk bertahan dan memperjuangkan apa yang selama ini aku perjuangkan. Ketika dia
telah memiliki yang lain yang lebih sempurna, bagaimana aku bisa bertahan dan
berjuang sendiri? Tidakkah lebih baik untuk berhenti dan berpindah?!
Mungkin
awalnya akan terasa berat, tapi aku
yakin bahwa waktu akan menjadi teman dan obat yang baik untuk perpindahan ini. Aku
yakin dan percaya, ada indah di setiap pindah. Memang tidak akan mudah
menghapus kenanagn yang terukir selama beberapa waktu, tapi biarlah kenangan
itu menjadi bagian dari perjalan hidup yang suatu waktu bisa aku jadikan
pelajaran. Dan ketika mungkin aku rindu, aku bisa sedikit mengais kenangan itu.
Kini
masanya untuk menanggalkan segala ego, berkemas, dan berpindah. Entah pada
akhirnya nanti akan segera menemukan pelabuhan yang baru ataukah masih akan
berkelana, biarkan waktu yang menjawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar