Kamis, 06 Maret 2014

Pindah



Manusia terkadang terlalu mencintai dunia yang dia ciptakan di dalam hatinya. (fa)

Itu adalah sepenggal kalimat dari fa, salah satu penulis di buku “pindah.”
Buku ini seolah menjadai tambahan kekuatan bagiku untuk melakukan perpindahan.

Pada dasarnya manusia memang memerlukan dan harus melakukan perpindahan. Seperti yang pernah aku lakukan dulu, berpindah dari Semarang menuju Gorontalo. Ini kali pun aku memutuskan untuk melakukan perpindahan. Tentu saja bukan lagi perpindahan fisik dari satu kota ke kota yang lain, tetapi berpindah hati.

Ya, benar sekali, aku memutuskan untuk berhenti berjuang. sekian lama aku menautkan hatiku pada seorang pria, kini saatnya aku berhenti dan berpindah. Bukan karena tak lagi cinta, tetapi karena tak lagi dibutuhkan. dalam sebuah hubungan bukan hanya cinta yang dibutuhkan, tetapi rasa saling membutuhkan juga harus ada. Karena itu yang akan membuat hubungan itu bertahan. Ketika seseorang merasa sudah tak lagi dibutuhkan, maka dengan sendirinya ia tidak punya alasan untuk bertahan. Begitu juga denganku. Aku merasa tak lagi dibutuhkan. Aku merasa tak lagi punya alasan untuk bertahan dan memperjuangkan apa yang selama ini aku perjuangkan. Ketika dia telah memiliki yang lain yang lebih sempurna, bagaimana aku bisa bertahan dan berjuang sendiri? Tidakkah lebih baik untuk berhenti dan berpindah?!

Mungkin awalnya akan terasa berat, tapi  aku yakin bahwa waktu akan menjadi teman dan obat yang baik untuk perpindahan ini. Aku yakin dan percaya, ada indah di setiap pindah. Memang tidak akan mudah menghapus kenanagn yang terukir selama beberapa waktu, tapi biarlah kenangan itu menjadi bagian dari perjalan hidup yang suatu waktu bisa aku jadikan pelajaran. Dan ketika mungkin aku rindu, aku bisa sedikit mengais kenangan itu.
Kini masanya untuk menanggalkan segala ego, berkemas, dan berpindah. Entah pada akhirnya nanti akan segera menemukan pelabuhan yang baru ataukah masih akan berkelana, biarkan waktu yang menjawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar