Untuk Mister Coffeholic…
Is, apa kabar? Lama tidak bersua denganmu,
sepertinya aku mulai rindu.
Sudahkah kau pindah ke sana Is? Ke tempat yang
katamu jauh karena butuh waktu 5 jam untuk sampai ke sana dari kota tempat kamu
tinggal. Kalau kamu sudah pindah, bagaimana di sana? Apakah sama dengan di
sini? Atau justru sangat berbeda dan kamu menyukainya? Aku beritahukan padamu,
meski aku yakin kau sebenarnya sudah tahu, keadaan di sini masih sama dengan
ketika kau memilih untuk pindah. Dan kau tahu, aku mulai bosan dan muak, tapi
tak ada yang bisa aku lakukan, karena seperti katamu dulu, system kita yang
rusak.
Oh ya Is, boleh aku ceritakan sesuatu kepadamu? Sesuatu
yang mungkin tidak akan kamu sangkasangka akan terucap dari bibirku.
Ada satu rahasia kecil yang selama ini kau simpan
sendiri.
Aku suka kamu Is. Iya, suka. Iya, kamu. Dan sepertinya
rasa suka itu perlahan berubah menjadi sayang.
Kalau kamu tanya kapan aku mulai menyukaimu, aku
pun tak tahu. Karena tetiba aku sering merindumu sejak kamu memutuskan untuk
pindah. Kamu tahu, dulu aku sering dan suka memandangi punggungmu. Aku sengaja
tidak beranjak dari tempat dudukku hanya untuk menikmati punggungmu yang
sebenarnya tidak atletis itu, tapi entah mengapa aku menyukainya. Aku sering
membayangkan memeluk punggung itu. Hahaha, kamu mungkin berpikir aku perempuan
liar dan gila karena membayangkan memeluk lelaki yang bukan miliknya. Tapi itu
benar Is, aku ingin memelukmu. Aku ingin tahu, aapakah punggungmu sedingin
sikapmu ataukah punggung itu justru hangat sehangat senja yang aku sukai.
Lucu ya Is, tetiba aku menulis surat untukmu dan
mengakui kalau aku menyukaimu. Pasti kamu berpikir kalau aku tidak tahu malu,
karena perempuan mengungkapkan perasaannya lebih dulu. Tapi seperti itulah aku
Is. Meski aku hanya berani mengakuinya melalui surat ini. Entah jika kita
bertemu apakah aku bisa mengucapkan langsung atau tidak. Aku todak yakin bisa
melakukannya, karena setiap kali berbicara denganmu, hatiku seperti dipukul
godam. Kau masih ingat ketika kau tibatiba menghampiri tempat dudukku kemudian
berkata kalau kau ingin menyalin lagu dari ponselku? Juga ketika kau
meminjamkan bukunya Pram yang sedang aku cari. Mungkin kau tidak ingat, tapi
aku masih ingat itu dengan jelas. Aku ingat bagaimana aku begitu gugup harus
berbicara empat mata denganmu. Tapi aku suka karena ternyata kita memiliki
selera yang sama. Bukan hanya itu yang buat aku jadi lebih menyukaimu. Kau seperti
sosok yang selama ini aku impikan. Kamu pintar menulis, main music, kamu coffeholic
seperti aku, kamu jamaah tembakau seperti bapakku, kamu gila sama buku, dan
yang pasti, kamu penuh meisteri. Matamu seperti danau yang tak sanggup aku salami.
Aku tak pernah tahu apa yang tersembunyi di balik matamu Is. Sungguh, suatu
hari ingin aku bisa membacanya. Tapi bukan itu alasan aku menyukaimu Is. Jika hanya
itu, mungkin sekarang aku tak sendiri lagi, karena ada teman lelakiku yang seperti
itu dan dia memiliki rasa terhadapku. Tapi sungguh Is, sematamata bukan karena
itu. Aku tidak tahu mengapa aku bisa menyukaimu. Hanya yang pasti, aku tidak
pernah bisa mengendalikan hatiku ketika aku berdekatan denganmu. Dan kini aku
merindukan itu.
Maaf Is, jika pengakuan ini justru membuat kamu
merasa tidak enak dan terbebani. Aku tidak meminta apapun. Kalau kau tanya apakah
aku berharap kau punya perasaan yang sama, aku jawab jujur iya. Namun aku sadar
dan cukup tahu diri. Siapa aku dan seperti apa aku sampai berani memintamu
untuk menyukaiku. Aku cukup memendam rasa ini untukmu Is. Ketika aku jath cinta
padamu, biarkan saja rasa itu ada. Aku tidak akan berusaha untuk membunuhnya. Aku
akan biarkan ia tumbuh jika ia ingin tumbuh. Tetapi jika pada akhirnya ia
memilih mati, maka aku akan buatkan ia pusara yang sewaktuwaktu bisa aku
kunjungi untuk sekadar mengingatnya.
Is, masihkah kau ingat dengan janjimu untuk mentraktirku
secangkir kopi? Aku harap kau masih mengingatnya. Pun aku berharap semoga suatu
hari kita ada kesempatan untuk mewujudkannya. Meski aku tak tahu apa yang aku bicarakan
ketika kesempatan itu ada. Karena seperti kataku tadi, aku selalu gugup dan
tidakbisa mengendalikan hatiku ketika berdekatan denganmu.
Is, aku cukupkan suratku kali ini. Aku takut kau
akan bosan membacanya. Karena aku masih ingin menulis suratsurat yang lain
untkmu di kemudian hari. Akan kuberitahulan padamu bagaimana perkembangan
rasaku kepadamu. Apakah ia memilih tumbuh atau ia memilih bunuh diri.
Tapi aku, telah memilih bunuh diri dengan jatuh
cinta padamu.
Dari
perempuan penyuka senja
Tidak ada komentar:
Posting Komentar