Selasa, 24 Maret 2015

Surat #1



Untuk Mister Coffeholic…

Is, apa kabar? Lama tidak bersua denganmu, sepertinya aku mulai rindu.
Sudahkah kau pindah ke sana Is? Ke tempat yang katamu jauh karena butuh waktu 5 jam untuk sampai ke sana dari kota tempat kamu tinggal. Kalau kamu sudah pindah, bagaimana di sana? Apakah sama dengan di sini? Atau justru sangat berbeda dan kamu menyukainya? Aku beritahukan padamu, meski aku yakin kau sebenarnya sudah tahu, keadaan di sini masih sama dengan ketika kau memilih untuk pindah. Dan kau tahu, aku mulai bosan dan muak, tapi tak ada yang bisa aku lakukan, karena seperti katamu dulu, system kita yang rusak.

Oh ya Is, boleh aku ceritakan sesuatu kepadamu? Sesuatu yang mungkin tidak akan kamu sangkasangka akan terucap dari bibirku.
Ada satu rahasia kecil yang selama ini kau simpan sendiri.
Aku suka kamu Is. Iya, suka. Iya, kamu. Dan sepertinya rasa suka itu perlahan berubah menjadi sayang.
Kalau kamu tanya kapan aku mulai menyukaimu, aku pun tak tahu. Karena tetiba aku sering merindumu sejak kamu memutuskan untuk pindah. Kamu tahu, dulu aku sering dan suka memandangi punggungmu. Aku sengaja tidak beranjak dari tempat dudukku hanya untuk menikmati punggungmu yang sebenarnya tidak atletis itu, tapi entah mengapa aku menyukainya. Aku sering membayangkan memeluk punggung itu. Hahaha, kamu mungkin berpikir aku perempuan liar dan gila karena membayangkan memeluk lelaki yang bukan miliknya. Tapi itu benar Is, aku ingin memelukmu. Aku ingin tahu, aapakah punggungmu sedingin sikapmu ataukah punggung itu justru hangat sehangat senja yang aku sukai.
Lucu ya Is, tetiba aku menulis surat untukmu dan mengakui kalau aku menyukaimu. Pasti kamu berpikir kalau aku tidak tahu malu, karena perempuan mengungkapkan perasaannya lebih dulu. Tapi seperti itulah aku Is. Meski aku hanya berani mengakuinya melalui surat ini. Entah jika kita bertemu apakah aku bisa mengucapkan langsung atau tidak. Aku todak yakin bisa melakukannya, karena setiap kali berbicara denganmu, hatiku seperti dipukul godam. Kau masih ingat ketika kau tibatiba menghampiri tempat dudukku kemudian berkata kalau kau ingin menyalin lagu dari ponselku? Juga ketika kau meminjamkan bukunya Pram yang sedang aku cari. Mungkin kau tidak ingat, tapi aku masih ingat itu dengan jelas. Aku ingat bagaimana aku begitu gugup harus berbicara empat mata denganmu. Tapi aku suka karena ternyata kita memiliki selera yang sama. Bukan hanya itu yang buat aku jadi lebih menyukaimu. Kau seperti sosok yang selama ini aku impikan. Kamu pintar menulis, main music, kamu coffeholic seperti aku, kamu jamaah tembakau seperti bapakku, kamu gila sama buku, dan yang pasti, kamu penuh meisteri. Matamu seperti danau yang tak sanggup aku salami. Aku tak pernah tahu apa yang tersembunyi di balik matamu Is. Sungguh, suatu hari ingin aku bisa membacanya. Tapi bukan itu alasan aku menyukaimu Is. Jika hanya itu, mungkin sekarang aku tak sendiri lagi, karena ada teman lelakiku yang seperti itu dan dia memiliki rasa terhadapku. Tapi sungguh Is, sematamata bukan karena itu. Aku tidak tahu mengapa aku bisa menyukaimu. Hanya yang pasti, aku tidak pernah bisa mengendalikan hatiku ketika aku berdekatan denganmu. Dan kini aku merindukan itu.
Maaf Is, jika pengakuan ini justru membuat kamu merasa tidak enak dan terbebani. Aku tidak meminta apapun. Kalau kau tanya apakah aku berharap kau punya perasaan yang sama, aku jawab jujur iya. Namun aku sadar dan cukup tahu diri. Siapa aku dan seperti apa aku sampai berani memintamu untuk menyukaiku. Aku cukup memendam rasa ini untukmu Is. Ketika aku jath cinta padamu, biarkan saja rasa itu ada. Aku tidak akan berusaha untuk membunuhnya. Aku akan biarkan ia tumbuh jika ia ingin tumbuh. Tetapi jika pada akhirnya ia memilih mati, maka aku akan buatkan ia pusara yang sewaktuwaktu bisa aku kunjungi untuk sekadar mengingatnya.
Is, masihkah kau ingat dengan janjimu untuk mentraktirku secangkir kopi? Aku harap kau masih mengingatnya. Pun aku berharap semoga suatu hari kita ada kesempatan untuk mewujudkannya. Meski aku tak tahu apa yang aku bicarakan ketika kesempatan itu ada. Karena seperti kataku tadi, aku selalu gugup dan tidakbisa mengendalikan hatiku ketika berdekatan denganmu.
Is, aku cukupkan suratku kali ini. Aku takut kau akan bosan membacanya. Karena aku masih ingin menulis suratsurat yang lain untkmu di kemudian hari. Akan kuberitahulan padamu bagaimana perkembangan rasaku kepadamu. Apakah ia memilih tumbuh atau ia memilih bunuh diri.
Tapi aku, telah memilih bunuh diri dengan jatuh cinta padamu.  
                                                     
                                                      Dari perempuan penyuka senja

Tidak ada komentar:

Posting Komentar