Kamis, 03 Oktober 2013

Balada Anak Rantau

Aku menulis ini di jalan yang aku lalui tiap hari. Entah telah berapa ribu langkah yang aku tempuh. Tak lagi bisa aku menghitung.

Ingatanku tertarik mundur ke masa 4 tahun silam. Masa awal pencarianku untuk sebuah kehidupan yang lebih baik.

Aku memutuskan meninggalkan kampung halaman dengan berbagai pertimbangan dan kecamuk di hati. Mimpi tentang kehidupan yang lebih lah yang menguatkan aku untuk berani melangkah jauh dari orang tua.

Aku menetapkan tujuan di sebuah kota kecil bernama Gorontalo. Kenapa harus di kota kecil? Kenapa juga Gorontalo? Yah semua itu tidak lain karena Gorontalo adalah kampung halaman ibuku.

Di Gorontalo, perjalananku untuk meraih hidup yang lebih baik dimulai.Sebagai seorang perantau, hanya tekat dan keberanian yang aku punya. Tak bisa kupungkiri bahwa awal tinggal di perantauan cukup sulit kujalani.
semua serba baru. Orangorang baru, budaya baru, bahasa baru, lingkungan baru, bahkan makanan baru. Aku harus cepat menyesuaikan diri agar semua menjadi ringan untuk dijalani.

Janji kehidupan yang lebih baik membuatku bersemangat untuk mengambil semua kesempatan yang ada. Berkat doa dan restu orang tua, tuhan memudahkan jalanku untuk mendapatkan pekerjaan. Tak perlu menunggu lama, sebuah janji masa depan sudah ada ditanganku. Tiada henti syukurku kepada tuhan untuk hal ini. Meski jauh dari orang tua, tapi aku bisa mengabulkan harapan mereka.

Hari berganti waktu pun terus bergulir. seiring perputaran jarum jam, dinamika hidup terus bergerak.
Kadang aku mulai merasa jenuh, lelah, bahkan kesepian karena jauh dari orang tua dan temanteman.
Tetapi seperti nasehat Imam Syafii, jangan takut merantau. Karena di tempat baru akan kau temukan teman dan keluarga baru. Kalimat itu aku ingat dengan baik. Bahwa benar adanya, di sini aku menemukan temanteman baru juga keluarga baru. Bahkan aku menemukan cinta baru :). Merekalah yang mengisi "kekosonganku".

Kini 4 tahun sudah aku merantau. Pernah terpikir olehku untuk pulang kembali ke kampung halaman. Tetapi sepertinya hal itu belum akan aku wujudkan dalam waktu dekat.
Untuk orang tua (terutama ayah) dan temanteman yang mengharap kepulanganku (untuk kembali menetap di jawa), aku minta maaf belum bisa mengabulkan permintaan kalian.
Aku masih ingin menikmati hidupku sebagai anak rantau. Aku masih ingin mengejar mimpiku tentang kehidupan yang lebih baik di sini.

Rabu, 02 Oktober 2013

Catatan Thaller Minor

Sudah beberapa hari ini aku selalu mendengar kata "penyakitan". Sebuah kata yang tidak enak untuk didengar. Tetapi kata inilah yang akhirnya menggerakkan jariku untuk membuat tulisan ini.

Aku tidak bisa memilih di keadaan seperti apa aku dilahirkan. Aku juga tak bisa memilih siapa orang tuaku.  Begitu juga dengan kalian. Kalian tidak bisa memilih terlahir dari suku apa, dari orang tua siapa, dan di keadaan seperti apa. Jika pada akhirnya aku terlahir di kondisi seperti ini dan dari orang tuaku, aku tidak menyesalinya sekalipun ini bukan pilihanku.Ini adalah anugrah tuhan antukku.

Mendapati kenyataan bahwa ada "kelainan" atau "cacat" dalam diri sungguh bukan hal yang mudah, apalagi untuk dibanggakan. Jika boleh memilih, aku pun ingin dilahirkan dalam keadaan "normal". Tetapi tuhan berkehendak dan punya rencana lain untukku. Dia menciptakan aku dengan "cacat" yang akan aku bawa sampai aku mati. Kemudian pertanyaannya, apakah ini salahku jika aku terlahir seperti ini? Apakah juga salah orang tuaku jika ternyata aku mempunyai thalassemia?

Ketahuilah, thalassemia bukanlah sebuah penyakit. Thalassemia merupakan sebuah "kelainan" atau "cacat" genetik. Adakah "obat" untuk menyembuhkan "kelainan/cacat" ini?

Kalian yang terlahir normal tentu tidak akan memahami bagaimana perasaan para thaller. Para thaller juga ingin hidup "normal". Aku memang bukan thaller mayor, hanya saja meski aku minor, tapi "kelainan" ini cukup mempengaruhi kondisi fisikku. Aku menjadi mudah lelah, mudah drop, bahkan terkadang mudah sakit. Jika aku sudah berusaha untuk menjaga kondisiku tetapi pada akhirnya aku tetap jatuh sakit, apakah itu sepenuhnya  salahku? Apakah kalian juga harus melihat keadaanku dengan pandangan miring? Mengatakan bahwa aku PENYAKITAN, bahkan dengan entengnya mengatakan MEMALUKAN MASIH LAJANG TAPI PENYAKITAN.
Memalukan? Siapa yang harus malu? Aku? Orang tuaku? Atau kalian? 
Kalau aku, kenapa aku harus malu? Ini bukan aib. Ini salah atu cara tuhan menyayangiku. Bahkan Dia lebih memperhatikan aku ketimbang kalian kan dengan keadaanku yang seperti ini?!

Sungguh kawan, tidak seorang pun di dunia ini yang menginginkan sakit. Semua orang ingin "normal. Tapi apa daya jika ini terjadi padaku. Aku hanya bisa mensyukuri segala apa yang terjadi kepadaku. 
Dan kata-kata kalian yang memandang rendah aku karena keadaanku, sungguh aku berharap bahwa itu tidak akan berbalik kepada kalian. Karena rasanya sungguh tidak bijak jika orang "berilmu seperti kalian tapi perkataan yang kalian keluarkan justru merendahkan kalian sendiri.

Ketahuilah, aku sama sekali tidak malu dengan semua pandangan miring kalian terhadapku. Aku hanya kecewa dan sungguh tidak menyangka.
Tapi kawan, jika boleh aku meminta, jangan lagi cecar aku dengan kata-kata kalian yang menganggapku begitu "berbeda" sekalipun memang kita berbeda.



Rabu, 09 Januari 2013

aku dan kamu

sejak kepergianmu, hatiku semakin tertutup untk yg lain. aku setia menunggu hatimu yg senantiasa mengembara. berlabuh dari 1 dermaga ke dermaga yg lain. akankah kau pulang ke tempatku menunggumu? atau kau justru akan mengembara semakin jauh dan membiarkanku menunggu hingga ajal yg lebih dahulu menemuiku? tak terbilang air mata yg kuteteskan dalam ku menunggu. resahku akan segalamu. bahagiakah kau disana? masih ingatkah kau dgn senja yg senantiasa merawat dan menyimpan kelelahanmu? sering kubertanya akan seperti apa akhir kisah ini. akankah menuju keabadian ataukah sia-sia dalam penantian...


Kamis, 20 Desember 2012

Rindu Tak Bertuan

Tetiba, ada rindu yang menggelayut..
Menghembuskan nada-nada yang meluruhkan butir-butir kristal dari muara di beningnya mata..

Namun, semakin dieja, semua menjadi samar.
Rindu kepada siapa? Ketika
kesepian mulai kerap menghantui dan menggedor pintu hati.

Kepada siapa rindu ini tertuju?
Jangankan sosoknya, bahkan
bayangnya pun samar ku lihat.
Kapankah rindu ini akan berlabuh? Sementara
luka selalu membayangi di setiap desahan napas, jejak langkah, pun detak nadi..

Rabu, 19 Desember 2012

Senja ini

Senja ini tak semerah kemarin Kawanan awan sedikit menyembunyikanx dr pandanganku Tapi getarnya sangat terasa Belum lagi angin yang menghembuskan lagu kerinduan.. Kawanan burung yang pulang ke sarang.. Tuhan, tak henti ku kagumi keindahan ini. Namun ada getir yg tiba2 mengusik. Ah benar, senja ini seperti luka. Aku masih menerka, lebih merah senja ataukah lukaku??


Sabtu, 17 November 2012

Lelaki dengan pelukan terhangat

Lelaki dengan pelukan terhangat Apa kabar engkau di sana ? Tahukah engkau, bahwa di sini, aku selalu merindumu. Di sini, di sbuah kota kecil, aku selalu mengenang segala tentang kita. Ribuan kilo terpisah jarak, tak membuatku melupakanmu begitu saja. Peduli setan dg luka lama itu. Kau adalah denyut nadi di hidupku. Tahukah kau, sebenarnya aku lemah tanpamu. Tapi kau slalu meyakinkanku bahwa aku bisa, bahwa aku kuat menghadapi ini sendiri. Tahukah engkau, mendengar suaramu membuatku semakin rindu. Inginku berlari dan memelukmu. Merasakan lagi pelukan paling hangat. Tapi kita terpisah jarak. Dan aku bersama air mataku, hanya bisa mengenang pelukan itu. Pernahkah engkau menyadari, sebenarnya aku tak ingin melepas pelukan itu. Tapi ini pilihan kita. Kau percaya aku bisa melewati jalan ini sendiri. Di perjalananku, ketika aku menemui kerikil tajam, pelukanmu sungguh aku rindukan.. Ayah, aku rindu waktu untuk kita. Dan aku sangat merindukan pelukanmu... Ayah, engkaulah lelaki terhebat di hidupku. Engkau lelaki dg pelukan terhangat yg pernah aku miliki.

Senin, 08 Oktober 2012

Tentang 'Pagi'

Dear God..

New day. New week.
Terima kasih atas semua berkah, meskipun kadang lupa untuk bersyukur.
Tetapi kejadian kemarin membuatku sangat2 bersyukur.
Begitu indah caraMu membuka mataku.
Membuatku sadar bahwa selalu ada 'pagi'.
Sebagaimana Kau tau, aku sangat menyukai senja. Tapi kini aku menemukan 'pagi'.
'Pagi' dengan pelukan yang menghangatkan dan menyelamatkan.
Membuatku tersadar bahwa aku tak pernah sendiri. Bahwa 'pagi' selalu bersamaku, bersama harapan2 baru..

Terima kasih Engkau menegurku dgn cara  yang benar2 membuatku terharu.
Kemarin aku memang menangis. Tetapi 30menit lebih dari cukup buatku untuk menangisi yang tak sepantasnya aku tangisi.
Aku memang kehilangan dia tapi aku tak boleh kehilangan 'pagi'.
Hey, tapi apa pantas ini disebut kehilangan jika semua karena pengkhianatan ??
Apapun namanya, aku memang bersedih. Dan rasanya itu sudah lebih dari cukup.
Seperti yang 'pagi' bilang, aku seharusnya belajar dari masa lalu.
Engkau pasti punya rencana yg lebih baik.
Dan semua aku kembalikan padaMu. Aku biarkan tanganMu yang bekerja.

Terima kasih Tuhan. Hari ini aku masih bisa membuka mata. Jantungku masih berdetak.
Dan juga...
Aku masih mempunyai 'pagi'.
'Pagi' dengan pelukan yang menghangatkan dan menenangkan..