Aku menulis ini di jalan yang aku lalui tiap hari. Entah telah berapa ribu langkah yang aku tempuh. Tak lagi bisa aku menghitung.
Ingatanku tertarik mundur ke masa 4 tahun silam. Masa awal pencarianku untuk sebuah kehidupan yang lebih baik.
Aku memutuskan meninggalkan kampung halaman dengan berbagai pertimbangan dan kecamuk di hati. Mimpi tentang kehidupan yang lebih lah yang menguatkan aku untuk berani melangkah jauh dari orang tua.
Aku menetapkan tujuan di sebuah kota kecil bernama Gorontalo. Kenapa harus di kota kecil? Kenapa juga Gorontalo? Yah semua itu tidak lain karena Gorontalo adalah kampung halaman ibuku.
Di Gorontalo, perjalananku untuk meraih hidup yang lebih baik dimulai.Sebagai seorang perantau, hanya tekat dan keberanian yang aku punya. Tak bisa kupungkiri bahwa awal tinggal di perantauan cukup sulit kujalani.
semua serba baru. Orangorang baru, budaya baru, bahasa baru, lingkungan baru, bahkan makanan baru. Aku harus cepat menyesuaikan diri agar semua menjadi ringan untuk dijalani.
Janji kehidupan yang lebih baik membuatku bersemangat untuk mengambil semua kesempatan yang ada. Berkat doa dan restu orang tua, tuhan memudahkan jalanku untuk mendapatkan pekerjaan. Tak perlu menunggu lama, sebuah janji masa depan sudah ada ditanganku. Tiada henti syukurku kepada tuhan untuk hal ini. Meski jauh dari orang tua, tapi aku bisa mengabulkan harapan mereka.
Hari berganti waktu pun terus bergulir. seiring perputaran jarum jam, dinamika hidup terus bergerak.
Kadang aku mulai merasa jenuh, lelah, bahkan kesepian karena jauh dari orang tua dan temanteman.
Tetapi seperti nasehat Imam Syafii, jangan takut merantau. Karena di tempat baru akan kau temukan teman dan keluarga baru. Kalimat itu aku ingat dengan baik. Bahwa benar adanya, di sini aku menemukan temanteman baru juga keluarga baru. Bahkan aku menemukan cinta baru :). Merekalah yang mengisi "kekosonganku".
Kini 4 tahun sudah aku merantau. Pernah terpikir olehku untuk pulang kembali ke kampung halaman. Tetapi sepertinya hal itu belum akan aku wujudkan dalam waktu dekat.
Untuk orang tua (terutama ayah) dan temanteman yang mengharap kepulanganku (untuk kembali menetap di jawa), aku minta maaf belum bisa mengabulkan permintaan kalian.
Aku masih ingin menikmati hidupku sebagai anak rantau. Aku masih ingin mengejar mimpiku tentang kehidupan yang lebih baik di sini.
