Kamis, 10 Oktober 2013

Di ujung jalan ini #1

Di ujung jalan ini pertama kita bertemu. Pagi itu tanpa sengaja mata kita beradu. Tidak ada percakapan, hanya seulas senyum yang saling kita lemparkan. Aku masih ingat, ketika itu kau berjalan tergesa-gesa. Entah apa yang kau buru.
Kau tlah lewat, tapi masih kusempatkan untuk menengok sejenak dan memperhatikanmu dari jauh. Lama kupandangi dirimu, hingga pun.ggungmu menghilang di tikungan.

Entah mengapa aku menyempatkan diri memandangi sosoknya. Mungkin karena waktu itu kau terlihat begitu aneh untukku. Ya, anggap saja ini aneh. Sesosok lelaki dengan dandanan yang berantakan, mata sembab dan terlihat persis seperti mata panda. Tapi senyummu bagaikan memiliki daya tarik seperti magnet.

ya, itulah pertemuan pertama kita. tanpa suara, tanpa kata. tapi seperti ada daya magnet yang menarikku begitu kuat.

Senin, 07 Oktober 2013

umbrus

pagiku kali ini tidak menjanjikan sesuatu yang baru.
masih bnyak yg berkecamuk di hati dan kepalaku.
semua masih terasa berat. semua masih membuatku ingin berteriak.
pertanyaan-pertanyaan itu selalu menggelitikku dan membuatku tak bisa memenjamkan mata.

sampai kapan kita seperti ini?
kita? benarkah kita? atau jangan-jangan hanya aku? atau mungkin malah hanya kamu?

aku mencoba perbaiki, tapi tak berubah.
kucoba lagi, masih gagal.
aku ulang mencoba, rasanya masih sama.
hingga tak jarang aku ingin berteriak dan kutanyakan pada tuhan, sejauh apa jalan terjal yang harus aku lalui.

Minggu, 06 Oktober 2013

tentang rasa

tetiba air mata menetes. rasanya seperti ada yang mengiris hati.
entah rasa apa ini hingga membuatku tanpa sadar kembali menangis.

sakitkah? atau
kecewa? atau mungkin
takut?

seringnya terluka membuatku terkadang tak bisa mengenali dan membedakan rasa.
bahkan tak jarang inginku mati rasa.

untuk engkau yang membuatku ingin mati rasa, tanpa kau tau, kau masih menjadi segalaku.

Sabtu, 05 Oktober 2013

Masihkah?

masihkah kau ingat ketika kita mengejar senja? ah rasanya sungguh menyenangkan. melihatmu meliak-liukkan motor di tengah ramainya kota. demi apa? demi senja yang ingin sekali aku lihat.

masihkah kau ingat purnama itu? bukan purnama yang sempurna memang. tapi kau tau, aku menyukai itu. karena mirip di film twilight. dan kau selalu mengingatkanku jika ada purnama.

masihkah kau ingat pantai itu? pantai di mana kita berkejaran layaknya anak kecil. kemudian aku merengek untuk memotret kaki kita yang bersanding.

masihkah kau ingat nama yang hanya kita pakai untuk kita? nama yang sebenarnya tanpa sengaja kita ciptakan.

masih ingatkah kau tentang lelaki dan perempuan akhir zaman?

malam ini, semua itu memenuhi seluruh ruang di otakku.....

Jumat, 04 Oktober 2013

Aku, Kamu, dan Oktober

wah gak sadar ternyata sudah oktober. sudah satu tahun rupanya kita berpisah. tapi tunggu dulu, apakah kita benar-benar berpisah? aku ragu akan hal itu. tapi aku pun ragu, apakah sekarang kita sedang bersama.

aku masih ingat hari itu. aku sedang tergeletak di rumah sakit tapi kau justru asyik mendua dengan dia.
aku tidak habis pikir, apa artinya aku untukmu saat itu, karena begitu aku keluar dari rumah sakit kau justru meninggalkan aku. ibarat kata, sudah jatuh tertimpa tangga pula. apes banget lah waktu itu.

tahukah kamu, setahun yang lalu aku benar-benar merasa sangat terpuruk. bahkan sempat terpikir olehku untuk pergi saja. bahkan aku sempat ingin membencimu. tapi sekeras apapun usahaku saat aku, aku benar-benar tidak bisa membencimu.

meski kini pun aku masih ragu apakah kita sedang bersama atau tidak, tapi untuk kau tahu, aku masih sering bertanya-tanya, apa yang kurang dan apa lagi yang kau cari hingga kau selalu asyik mendua.
jangan menggunakan dalih gejolak usia muda atau menduamu hanya sekadar status. telingaku hampir tuli dengan hal itu.

kini kita kembali dekat. ada canda, ada marah. bahkan kita berbagi mimpi. tapi aku tak tahu, apakah kita akan berada dalam satu biduk dan mendayungnya bersama melintasi samudra.
ataukah kita hanya akan menjadi teman berbagi tanpa pernah bisa bersama.

untuk lelaki akhir zaman, ingatlah. di sampingmu ada wanita akhir zaman yang setia menunggu :-)

Kamis, 03 Oktober 2013

Balada Anak Rantau

Aku menulis ini di jalan yang aku lalui tiap hari. Entah telah berapa ribu langkah yang aku tempuh. Tak lagi bisa aku menghitung.

Ingatanku tertarik mundur ke masa 4 tahun silam. Masa awal pencarianku untuk sebuah kehidupan yang lebih baik.

Aku memutuskan meninggalkan kampung halaman dengan berbagai pertimbangan dan kecamuk di hati. Mimpi tentang kehidupan yang lebih lah yang menguatkan aku untuk berani melangkah jauh dari orang tua.

Aku menetapkan tujuan di sebuah kota kecil bernama Gorontalo. Kenapa harus di kota kecil? Kenapa juga Gorontalo? Yah semua itu tidak lain karena Gorontalo adalah kampung halaman ibuku.

Di Gorontalo, perjalananku untuk meraih hidup yang lebih baik dimulai.Sebagai seorang perantau, hanya tekat dan keberanian yang aku punya. Tak bisa kupungkiri bahwa awal tinggal di perantauan cukup sulit kujalani.
semua serba baru. Orangorang baru, budaya baru, bahasa baru, lingkungan baru, bahkan makanan baru. Aku harus cepat menyesuaikan diri agar semua menjadi ringan untuk dijalani.

Janji kehidupan yang lebih baik membuatku bersemangat untuk mengambil semua kesempatan yang ada. Berkat doa dan restu orang tua, tuhan memudahkan jalanku untuk mendapatkan pekerjaan. Tak perlu menunggu lama, sebuah janji masa depan sudah ada ditanganku. Tiada henti syukurku kepada tuhan untuk hal ini. Meski jauh dari orang tua, tapi aku bisa mengabulkan harapan mereka.

Hari berganti waktu pun terus bergulir. seiring perputaran jarum jam, dinamika hidup terus bergerak.
Kadang aku mulai merasa jenuh, lelah, bahkan kesepian karena jauh dari orang tua dan temanteman.
Tetapi seperti nasehat Imam Syafii, jangan takut merantau. Karena di tempat baru akan kau temukan teman dan keluarga baru. Kalimat itu aku ingat dengan baik. Bahwa benar adanya, di sini aku menemukan temanteman baru juga keluarga baru. Bahkan aku menemukan cinta baru :). Merekalah yang mengisi "kekosonganku".

Kini 4 tahun sudah aku merantau. Pernah terpikir olehku untuk pulang kembali ke kampung halaman. Tetapi sepertinya hal itu belum akan aku wujudkan dalam waktu dekat.
Untuk orang tua (terutama ayah) dan temanteman yang mengharap kepulanganku (untuk kembali menetap di jawa), aku minta maaf belum bisa mengabulkan permintaan kalian.
Aku masih ingin menikmati hidupku sebagai anak rantau. Aku masih ingin mengejar mimpiku tentang kehidupan yang lebih baik di sini.

Rabu, 02 Oktober 2013

Catatan Thaller Minor

Sudah beberapa hari ini aku selalu mendengar kata "penyakitan". Sebuah kata yang tidak enak untuk didengar. Tetapi kata inilah yang akhirnya menggerakkan jariku untuk membuat tulisan ini.

Aku tidak bisa memilih di keadaan seperti apa aku dilahirkan. Aku juga tak bisa memilih siapa orang tuaku.  Begitu juga dengan kalian. Kalian tidak bisa memilih terlahir dari suku apa, dari orang tua siapa, dan di keadaan seperti apa. Jika pada akhirnya aku terlahir di kondisi seperti ini dan dari orang tuaku, aku tidak menyesalinya sekalipun ini bukan pilihanku.Ini adalah anugrah tuhan antukku.

Mendapati kenyataan bahwa ada "kelainan" atau "cacat" dalam diri sungguh bukan hal yang mudah, apalagi untuk dibanggakan. Jika boleh memilih, aku pun ingin dilahirkan dalam keadaan "normal". Tetapi tuhan berkehendak dan punya rencana lain untukku. Dia menciptakan aku dengan "cacat" yang akan aku bawa sampai aku mati. Kemudian pertanyaannya, apakah ini salahku jika aku terlahir seperti ini? Apakah juga salah orang tuaku jika ternyata aku mempunyai thalassemia?

Ketahuilah, thalassemia bukanlah sebuah penyakit. Thalassemia merupakan sebuah "kelainan" atau "cacat" genetik. Adakah "obat" untuk menyembuhkan "kelainan/cacat" ini?

Kalian yang terlahir normal tentu tidak akan memahami bagaimana perasaan para thaller. Para thaller juga ingin hidup "normal". Aku memang bukan thaller mayor, hanya saja meski aku minor, tapi "kelainan" ini cukup mempengaruhi kondisi fisikku. Aku menjadi mudah lelah, mudah drop, bahkan terkadang mudah sakit. Jika aku sudah berusaha untuk menjaga kondisiku tetapi pada akhirnya aku tetap jatuh sakit, apakah itu sepenuhnya  salahku? Apakah kalian juga harus melihat keadaanku dengan pandangan miring? Mengatakan bahwa aku PENYAKITAN, bahkan dengan entengnya mengatakan MEMALUKAN MASIH LAJANG TAPI PENYAKITAN.
Memalukan? Siapa yang harus malu? Aku? Orang tuaku? Atau kalian? 
Kalau aku, kenapa aku harus malu? Ini bukan aib. Ini salah atu cara tuhan menyayangiku. Bahkan Dia lebih memperhatikan aku ketimbang kalian kan dengan keadaanku yang seperti ini?!

Sungguh kawan, tidak seorang pun di dunia ini yang menginginkan sakit. Semua orang ingin "normal. Tapi apa daya jika ini terjadi padaku. Aku hanya bisa mensyukuri segala apa yang terjadi kepadaku. 
Dan kata-kata kalian yang memandang rendah aku karena keadaanku, sungguh aku berharap bahwa itu tidak akan berbalik kepada kalian. Karena rasanya sungguh tidak bijak jika orang "berilmu seperti kalian tapi perkataan yang kalian keluarkan justru merendahkan kalian sendiri.

Ketahuilah, aku sama sekali tidak malu dengan semua pandangan miring kalian terhadapku. Aku hanya kecewa dan sungguh tidak menyangka.
Tapi kawan, jika boleh aku meminta, jangan lagi cecar aku dengan kata-kata kalian yang menganggapku begitu "berbeda" sekalipun memang kita berbeda.