Selasa, 29 Oktober 2013

Kalau Tak Cinta

Setiap hari, setiap waktu, aku selalu berusaha menganggap semua baik-baik saja. Masih sulit bagiku menerima kenyataan bahwa kamu yang begitu aku cintai ternyata memilih kembali kepada seseorang yang lebih baik dan sempurna. Tentu saja, jika tak sempurna tak mungkin kau memilih kembali padanya.

Apa kamu pernah tahu, dalam diamku, rindu ini selalu milikmu. Sayang dan cinta ini masih untukmu.
Aku masih tak henti-hentinya merapal namamu di hadapan Tuhan. Doaku untukmu masih mengalir di sujud lima waktuku.

Apa kau tahu, setiap bertemu aku berusaha (terlihat) baik-baik saja, meski sebenarnya hatiku perih menyadari bahwa aku dan kamu tak lagi menjadi kita.

Aku dan kamu memang bersama, tapi aku tak tahu apa hubungan kita. Teman? Kekasih? Atau?
Kamu masih ingat julukan partner in crime yang aku katakan di malam itu? Ya, itu karena aku tak bisa menemukan istilah yang tepat untuk mendefinisikan hubungan kita. Dan karena aku juga tak punya keberanian lebih untuk menanyakan padamu, apa sebenarnya hubungan kita dan apa artiku untukmu.

Selama ini aku hanya merasa memilikimu, tapi tak pernah benar-benar memilikimu, meski kau memiliku seutuhnya. Setiap kita bersama, selalu ada dia. Setiap kita bertemu, aku harus melihatmu berbalas pesan singkat dengan dia yang kau panggil "sayang". Kau tahu seperti apa rasaku saat itu?
Aku merasa bagai sebongkah patung yang bernyawa tapi tak bisa melakukan apapun.

Aku tahu kalau kau tahu aku rindu, aku sayang, aku cinta. Tapi setiap aku katakan itu, balasmu selalu pertanyaan yang serupa.
"Kenapa kau sayang aku?". Oh Sayang, tak semua pertanyaan kenapa harus dijawab dengan karena. Kau tahu, rasaku kepadamu tanpa alasan.

Kemarin aku beranikan diri mengatakan sayang setelah cukup lama aku diam. Dan aku tak sangka, aku bisa sesedih ini membaca balasan pesan singkatmu.
"Yakin kau sayang aku?"

Kalau tak cinta, tak mungkin aku bertahan sejauh ini di sampingmu. Tak lihatkah kau kesedihan dan kegelapan di mataku ketika hari itu kau lumat bibirku dengan kata perpisahan?!
Tak tahukah kau air mataku menganak sungai ketika aku tahu kau kembali kepada dia yang kau panggil "sayang" ? Tentu saja kau tak tahu itu. Karena bagimu aku hanya persinggahan, bukan tujuan.

Kalau tak cinta, tak mungkin aku terima dengan tangan dan hati terbuka setiap kau datang padaku, meski hanya sekadar singgah bukan untuk menetap. Bukankah sudah kukatakan berulang kali, untukmu, hatiku bagai rumah tanpa pintu.

Kalau tak cinta, tak mungkin aku masih berharap aku dan kamu kembali menjadi kita.

                           untuk yang tak pernah     percaya betapa aku mencintai dia.

                      Dari wanita akhir zaman              yang tak henti merapal namanya di hadapan Tuhan

Jumat, 25 Oktober 2013

Kamu

Kamu adalah apa yang aku perbincangkan dengan tuhan. Tapi obrolanmu dengan tuhan, bukanlah tentang aku.
Kau tahu, aku cemburu. Aku juga ingin cintamu. Harus berapa lama cintaku bertepuk sebelah tangan? Tak adakah sedikit ruang untukku di hatimu?
Jika bisa, aku akan memilih untuk jatuh cinta kepada orang yang mencintaiku. Tapi tidak. Aku tidak bisa memilih.
Yang tuhan bisikkan adalah namamu. Ya, kepadamu lah tuhan memutuskan aku untuk jatuh cinta. Tapi tuhan tidak memberitahuku bahwa jatuh cinta padamu akan sesulit ini.

Rabu, 23 Oktober 2013

Subuh

Tuhan, di pagi yang masih prematur ini, kembali kurapal namanya di hadapMu. kembali kuceritakan tentang dia kepadaMu. Dan aku bertanya kepadaMu, masih bolehkah aku menyimpan harap akan mimpiku bersamanya? Masih sanggupkah aku bertahan melalui jalan cerita yang telah Kau rangkai?

Oh Gusti, berilah sedikit petunjuk yang mudah aku baca. karena hambamu yang papa ini kerap kali bodoh dalam membaca tanda.

Selasa, 22 Oktober 2013

Hilang

Dan lampu jalan pun tetiba mati ketika aku lewat. Malam. Hitam. Pekat.
Dan kamu, Hilang.
Terbang bersama debu yang tersapu bayu.


22102013/20.45

goodbye

tak ada lagi purnama. dia tak pernah muncul kembali. tenggelam bersama puing-puing istana yang runtuh. istana yang belum selesai aku bangun.

Senja Fajar


Aku mungkin tidak akan seperti ini jika dari awal aku bisa memukul mundur kehadiranmu. Bukan malah membiarkan kamu masuk terlalu jauh hingga akhirnya merajai seluruh bagian hatiku. Menyesal? Tidak! Aku tidak menyesalinya. Sedikit pun tidak pernah terlintas dalam pikiranku untuk menyesali keputusanku membiarkanmu berkelana di hatiku.. Karena toh sekalipun disesali itu tidak akan mengubah keadaan. Kau terlanjur masuk, hidup, dan menetap di dalam hati. Ahh, bukankah Tuhan juga tidak menyukai umatNya yang berandai-andai seperti ini.
Aku cukup menerima keadaanku. Berusaha menjadi perempuan jawa yang nrimo ing pandum. Tapi bukan berarti aku tidak melakukan usaha apapun. Nrima dalam artian pasrah di sini aku tetap usaha, tetapi keputusan dan hasil akhirnya harus tetap dikembalikan kepada yang Maha. Karena Dia yang memegang segalaku, meski bagiku, segalaku itu kamu.
Aku sebenarnya punya pilihan. Apakah aku akan meneruskan dan menunggu sesuatu yang (mungkin) belum jelas atau aku memilih untuk melangkah pergi dan meninggalkan semuanya. Jika ditilik dari permasalahan yang aku hadapi, pilihan terbaiknya mungkin adalah aku melangkah pergi dan melepaskan semuanya. Tetapi sayang, aku tidak akan menyerah dan memilih hal itu. Meskipun beribu bahkan berjuta orang memaksaku untuk memilih pilihan itu. Aku akan lebih mendengarkan dan percaya pada pilihan hatiku. Tetap berada di sampingmu, entah sebagai apamu (karena aku memang tidak berani meminta kejelasan status) dengan resiko bahwa (mungkin) aku akan sering berurai air mata.
Aku tahu kau dengan dia. Bukan hanya sekadar tahu, bahkan aku merasa kau amat mencintainya. Itu terlihat dari seringnya kamu pergi darinya, tapi pada akhirnya kamu kembali lagi kepadanya. Hingga tak jarang aku bertanya, apa yang dia punya sampai kau selalu kembali padanya meski kau sendiri yang memutuskan untuk pergi. Sedangkan dengan aku? Ahh, tak perlu kau tanya. Untukmu, hatiku bagai rumah tanpa pintu. Kau bisa bebas keluar masuk sesuka hatimu. Ya, mungkin itu kesalahanku yang membiarkanmu keluar masuk begitu saja ke dalam hatiku. Tapi aku juga punya alasan untuk itu. Aku mengizinkanmu seperti itu karena aku benar-benar tulus menyayangi. Dan sebenarnya aku ingin kau tetap di sini, di sampingku. Tak perlu lagi kau cari dermaga-dermaga lain untuk kau singgahi. Cukup satu dermaga, yang bisa kau datangi kapan pun kau mau. Ahh, lagi-lagi kau membuatku mengutarakan cinta yang sebenarnya sangat bisa kau lihat tanpa aku harus mengucapkannya.
Untukmu dan di sampingmu, aku berusaha menjadi seperti senja. Kau tahu kenapa senja? Tentu bukan hanya karena aku menyukainya. Menurut egoku, senja itu sempurna. Dia bisa menjadi sangat dewasa ketika ia yang menyimpan segala lelah dan penatmu. Tempatmu untuk beristirahat. Tapi di sisi lain, ia juga bisa sangat anak-anak. Menggodamu dan membutamu berlari untuk mengejarnya karena kehadiran dan keberadaannya ya sesaat. Namun bagimu, aku tak hanya ada untuk sesaat.
Dan kau tahu, bagiku kau seperti fajar. Memang belum terang seperti pagi. Tetapi dari fajar segala sesuatu bermula. Ketka fajar, ribuan manusia mulai menumbuhkan kembali mimpi dan harapannya. Bahkan ayam-ayam tetangga pun turun dari kandangnya tatkala fajar mulai menyingsing. Ya, seperti itulah kamu buatku. Seperti fajar. Memberikan mimpi dan harapan baru untukku. Harapan dan mimpi yang akan aku wujudkan dan aku mulai di pagi hari.
Hey, tetapi tunggu dulu Sayang. Bukankah senja dengan fajar itu mempunyai kemiripian? Ahh, kau benar. Fajar dan senja memiliki semburat merah yang sama. Merah seperti luka mungkin. Begitu pun dengan kehadiran mereka yang hanya sesaat. 
Aku pun menyukai fajar. Waktu di mana sang surya belum menampakkan dirinya secara utuh. Sama seperti senja. Ketika sang surya perlahan mulai meninggalkan kita.
Senja dan fajar. Dua waktu yang memiliki kesamaan tetapi tak mungin bersama. Begitu pun aku dan kamu. Seperti fajar dan senja. Tapi apakah nasib kita akan sama seperti fajar dan senja? Aku berharap tidak. Sekali lagi egoku mengatakan bahwa kita justru akan saling melengkapi. Ketika lelah, masing-masing akan menjadi senja untuk yang lain. Dan sesudahnya, akan menjadi fajar, di mana kita akan mulai menumbuhkan harapan dan janji baru. Untuk aku, untuk kamu, untuk kita, dan untuk mereka. Bersama, bahagia, hingga ujung usia. 


Untuk dia yang tak tahu betapa
aku selalu merindu pun
mencinta 

Senin, 21 Oktober 2013

Rindu Hujan

Tetes pertama Oktober
aroma tanah basah
semilir bayu membelai merdu
tetiba,
Rindu

sekelumit rasa getarkan jiwa
rindu bersua dia

kepada hujan
kusampaikan rasa


Oktober 2013