Tetes pertama Oktober
aroma tanah basah
semilir bayu membelai merdu
tetiba,
Rindu
sekelumit rasa getarkan jiwa
rindu bersua dia
kepada hujan
kusampaikan rasa
Oktober 2013
Tetes pertama Oktober
aroma tanah basah
semilir bayu membelai merdu
tetiba,
Rindu
sekelumit rasa getarkan jiwa
rindu bersua dia
kepada hujan
kusampaikan rasa
Oktober 2013
oktober sudah setengah perjalanan.
berharap ia segera berganti.
berganti dengan november yang manis
november yang penuh dengan hujan.
november yang bertabur rindu.
oktober
bukan benci hanya
takut?
waswas?
ahh, tak perlu dijelaskan
terkadang rasa memang hanya
untuk dirasa
Di ujung jalan ini pertama kita bertemu. Pagi itu tanpa sengaja mata kita beradu. Tidak ada percakapan, hanya seulas senyum yang saling kita lemparkan. Aku masih ingat, ketika itu kau berjalan tergesa-gesa. Entah apa yang kau buru.
Kau tlah lewat, tapi masih kusempatkan untuk menengok sejenak dan memperhatikanmu dari jauh. Lama kupandangi dirimu, hingga pun.ggungmu menghilang di tikungan.
Entah mengapa aku menyempatkan diri memandangi sosoknya. Mungkin karena waktu itu kau terlihat begitu aneh untukku. Ya, anggap saja ini aneh. Sesosok lelaki dengan dandanan yang berantakan, mata sembab dan terlihat persis seperti mata panda. Tapi senyummu bagaikan memiliki daya tarik seperti magnet.
ya, itulah pertemuan pertama kita. tanpa suara, tanpa kata. tapi seperti ada daya magnet yang menarikku begitu kuat.
pagiku kali ini tidak menjanjikan sesuatu yang baru.
masih bnyak yg berkecamuk di hati dan kepalaku.
semua masih terasa berat. semua masih membuatku ingin berteriak.
pertanyaan-pertanyaan itu selalu menggelitikku dan membuatku tak bisa memenjamkan mata.
sampai kapan kita seperti ini?
kita? benarkah kita? atau jangan-jangan hanya aku? atau mungkin malah hanya kamu?
aku mencoba perbaiki, tapi tak berubah.
kucoba lagi, masih gagal.
aku ulang mencoba, rasanya masih sama.
hingga tak jarang aku ingin berteriak dan kutanyakan pada tuhan, sejauh apa jalan terjal yang harus aku lalui.
tetiba air mata menetes. rasanya seperti ada yang mengiris hati.
entah rasa apa ini hingga membuatku tanpa sadar kembali menangis.
sakitkah? atau
kecewa? atau mungkin
takut?
seringnya terluka membuatku terkadang tak bisa mengenali dan membedakan rasa.
bahkan tak jarang inginku mati rasa.
untuk engkau yang membuatku ingin mati rasa, tanpa kau tau, kau masih menjadi segalaku.
masihkah kau ingat ketika kita mengejar senja? ah rasanya sungguh menyenangkan. melihatmu meliak-liukkan motor di tengah ramainya kota. demi apa? demi senja yang ingin sekali aku lihat.
masihkah kau ingat purnama itu? bukan purnama yang sempurna memang. tapi kau tau, aku menyukai itu. karena mirip di film twilight. dan kau selalu mengingatkanku jika ada purnama.
masihkah kau ingat pantai itu? pantai di mana kita berkejaran layaknya anak kecil. kemudian aku merengek untuk memotret kaki kita yang bersanding.
masihkah kau ingat nama yang hanya kita pakai untuk kita? nama yang sebenarnya tanpa sengaja kita ciptakan.
masih ingatkah kau tentang lelaki dan perempuan akhir zaman?
malam ini, semua itu memenuhi seluruh ruang di otakku.....